-->

Iklan

Menu Bawah

Iklan

Halaman

FRMF Protes Keras Final Piala Afrika 2025: Maroko Ajukan Pengaduan Resmi ke FIFA dan CAF

Redaksi
Rabu, 21 Januari 2026, Januari 21, 2026 WIB Last Updated 2026-01-20T23:20:12Z
Gelandang Senegal #26, Pape Gueye (kiri), dan rekan-rekan setimnya merayakan kemenangan mereka di akhir pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 antara Senegal dan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (FRANCK FIFE/AFP)


Jakarta, Selektifnews.com  -- Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) mengambil langkah tegas menyusul kekacauan yang mewarnai partai final Piala Afrika 2025. Maroko memastikan akan mengajukan pengaduan resmi ke FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) terkait insiden yang terjadi pada akhir waktu normal laga kontra Senegal di Rabat.


Laga final yang digelar di stadion ibu kota itu sejatinya berjalan ketat hingga memasuki masa injury time, dengan skor masih imbang 0-0. Ketegangan memuncak ketika wasit memberikan penalti kontroversial untuk Maroko, memicu protes keras dari kubu Senegal. Keputusan tersebut menjadi pemicu utama insiden yang mengganggu jalannya pertandingan.


Situasi memanas ketika pelatih Senegal, Pape Thiaw, memerintahkan para pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Aksi itu membuat pertandingan terhenti dan menimbulkan kekacauan di dalam maupun sekitar stadion, dengan para penonton dan petugas keamanan terlibat dalam kericuhan.


Meski Senegal akhirnya keluar sebagai juara lewat gol Pape Gueye di babak tambahan waktu, kemenangan tersebut tidak mampu meredam kekecewaan tuan rumah. FRMF menilai jalannya laga telah tercemar oleh tindakan yang dianggap tidak sportif, sehingga integritas final diragukan.


Dalam pernyataan resmi, FRMF menyebut penarikan pemain Senegal dari lapangan disertai insiden serius yang mengganggu konsentrasi para pemain Maroko. Federasi menegaskan akan menempuh jalur hukum melalui CAF dan FIFA guna meminta penilaian resmi atas tindakan Senegal, termasuk peristiwa yang menyertainya setelah penalti diumumkan.


FRMF juga menekankan bahwa penalti yang diberikan kepada Maroko dinilai sah oleh para pakar wasit. Oleh karena itu, mereka mendesak badan sepak bola internasional mengambil sikap tegas atas tindakan Senegal yang dianggap merusak integritas final, serta memberikan kepastian bagi sepak bola Afrika.


Kericuhan semakin parah saat pendukung Senegal menerobos pembatas dan memasuki area fotografer di belakang gawang. Sejumlah kursi dilempar ke lapangan, bentrokan terjadi dengan petugas keamanan, dan aparat kepolisian harus turun tangan untuk memulihkan ketertiban. Pertandingan baru dilanjutkan setelah sekitar 14 menit tertunda, berkat usaha Sadio Mane membujuk rekan setimnya agar kembali ke lapangan.


Saat laga kembali berjalan, Brahim Diaz maju sebagai algojo penalti bagi Maroko, namun upaya panenka-nya digagalkan kiper Senegal, Edouard Mendy. Gol kemenangan Senegal akhirnya tercipta empat menit memasuki babak tambahan waktu melalui Pape Gueye, memastikan Senegal meraih gelar Piala Afrika kedua mereka dalam lima tahun terakhir. Meski FRMF menyampaikan ucapan selamat, kubu Maroko menilai cara kemenangan itu diraih meninggalkan luka mendalam bagi sepak bola Afrika.


Sumber: Bola.com

Editor: Zulfandi Kusnomo 



Komentar

Tampilkan

Terkini

Entertainment

+

Opini

+