![]() |
| Maxzone |
Tanjungpinang – Kota Tanjungpinang yang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau dikenal sebagai kota tua yang sarat dengan budaya Melayu. Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini terus berbenah melalui berbagai pembangunan dan pengembangan kawasan guna mewujudkan wajah kota yang lebih modern. Keberagaman suku, etnis, dan agama yang hidup berdampingan turut menjadi bagian penting dalam perkembangan Tanjungpinang sebagai pusat ekonomi, perdagangan, dan pariwisata di wilayah Kepulauan Riau.
Pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun turut membuka peluang usaha di berbagai sektor, termasuk sektor pariwisata dan hiburan. Letak geografis yang strategis membuat Tanjungpinang menjadi salah satu tujuan wisata favorit bagi wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia dan Singapura. Pada akhir pekan maupun musim liburan tertentu, wisatawan dari negara tetangga tersebut kerap berkunjung untuk berlibur, berbelanja, serta menikmati kuliner dan budaya khas Melayu yang menjadi daya tarik utama daerah ini.
Namun di tengah geliat pembangunan tersebut, sebagian masyarakat menilai Tanjungpinang masih memiliki keterbatasan dalam penyediaan fasilitas hiburan yang sehat dan ramah keluarga. Selain kafe dan pusat rekreasi, terdapat pula sejumlah arena permainan ketangkasan yang cukup ramai dikunjungi masyarakat. Berbagai jenis permainan elektronik seperti tembak ikan, poker elektronik, MM, pacuan kuda, hingga permainan tebak bola menjadi pilihan hiburan bagi sebagian kalangan.
Berdasarkan pantauan tim awak media pada Jumat (19/6/2026), beberapa lokasi permainan ketangkasan yang beroperasi di Kota Tanjungpinang tampak ramai dikunjungi pengunjung. Di antaranya berada di kawasan Jalan Sukaberenang dengan nama Maxzone serta BGZ (Bintang Game Zone) yang berlokasi di kawasan Bintan Plaza Km 3,5 Jalan M.T. Haryono. Aktivitas para pemain terlihat berlangsung hampir tanpa henti di sejumlah meja permainan yang tersedia di dalam gedung.
Menariknya, mayoritas pengunjung yang terlihat berada di dalam arena permainan tersebut merupakan pria dan wanita dewasa. Kondisi ini dinilai berbeda dengan tempat hiburan permainan pada umumnya yang biasanya juga ramai dikunjungi anak-anak dan remaja. Dari hasil penelusuran di lapangan, pemain yang ingin mengikuti permainan pacuan kuda elektronik diwajibkan terlebih dahulu mengisi kredit dengan menyetorkan uang tunai minimal Rp50 ribu kepada petugas yang berjaga di meja permainan.
Setelah kredit terisi, pemain dapat memasang pilihan pada kuda elektronik yang akan berpacu dalam hitungan detik. Jika pilihan yang dipasang sesuai dengan hasil akhir perlombaan, jumlah kredit pemain akan bertambah. Sebaliknya, apabila prediksi tidak tepat, kredit yang dimiliki akan berkurang bahkan habis. Untuk melanjutkan permainan, pemain kembali diwajibkan melakukan pengisian kredit dengan nominal mulai dari Rp50 ribu, Rp100 ribu, hingga jutaan rupiah tergantung jumlah meja permainan yang diikuti.
Mekanisme serupa juga ditemukan pada sejumlah permainan lainnya seperti poker elektronik dan tembak ikan. Sebelum bermain, pemain harus melakukan pembelian kredit menggunakan uang tunai. Salah seorang pengunjung yang enggan disebutkan identitasnya mengaku mengalami kerugian cukup besar dalam waktu singkat. “Nggak sampai satu jam bang, saya sudah kalah dua juta rupiah,” ujarnya kepada tim awak media. Sementara itu, pemain lainnya juga mengaku kecewa lantaran terus mengalami kekalahan meskipun telah berulang kali mencoba peruntungan.
Munculnya berbagai informasi dan isu yang berkembang di tengah masyarakat mengenai dugaan praktik perjudian berkedok permainan ketangkasan membuat keberadaan arena tersebut menjadi sorotan. Untuk memperoleh klarifikasi, tim awak media mencoba meminta keterangan kepada salah seorang petugas yang berjaga di pintu masuk lokasi permainan. Namun petugas tersebut enggan memberikan penjelasan lebih lanjut. “Maaf, kami nggak bisa jawab. Tolong tanyakan langsung sama pengawasnya,” ujar pria berperawakan kekar yang bertugas di area luar gedung. Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola arena permainan belum berhasil dimintai keterangan resmi terkait mekanisme operasional maupun tudingan yang berkembang di masyarakat.
Laporan: Tim Selektifnews.com
Editor: Redaksi
