![]() |
| Puskesmas Sinasih |
SIMALUNGUN — Pelayanan di Puskesmas Sinasih, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, menuai sorotan dan kecaman dari masyarakat. Persoalan ini mencuat setelah seorang balita berusia sekitar 3 tahun yang mengalami demam tinggi hingga kejang (step) dibawa keluarganya ke Puskesmas Sinasih pada malam hari sekitar pukul 22.00 WIB.
Menurut keterangan salah seorang warga yang mengetahui kejadian tersebut, saat pasien tiba di puskesmas terdapat sejumlah tenaga kesehatan yang sedang berjaga. Namun, keluarga pasien mempertanyakan lambannya penanganan terhadap kondisi balita yang tengah mengalami kejang.
Warga tersebut menyebut, pasien baru mendapatkan oksigen sekitar 15 menit setelah berada di puskesmas. Selain itu, keluarga pasien juga mempertanyakan ketersediaan obat-obatan maupun perlengkapan pendukung pelayanan medis di fasilitas kesehatan tersebut.
Situasi kemudian disebut memanas. Sejumlah warga yang berada di lokasi dikabarkan emosi hingga terjadi aksi membalikkan meja. Dalam situasi tersebut, warga mendapat penjelasan bahwa kunci ruang penyimpanan obat disebut dibawa oleh salah seorang tenaga kesehatan yang diketahui bernama Risma.
Menurut keterangan warga, kunci tersebut kemudian diantar dari kediaman seorang bidan yang disebut bernama Risme, sekitar satu jam kemudian. Warga juga menyebut bidan tersebut merupakan istri Pangulu Nagori Sinasih.
Setelah obat tersedia, balita tersebut kemudian mendapatkan penanganan dan obat yang berkaitan dengan kondisi kejang. Sejumlah perangkat desa, termasuk Pangulu Nagori Sinasih, disebut turut datang ke lokasi.
Namun, kehadiran sejumlah perangkat desa tersebut justru menjadi sorotan warga. Mereka mempertanyakan mengapa persoalan pelayanan kesehatan darurat sampai menimbulkan keributan dan mengapa fasilitas serta obat-obatan yang dibutuhkan pasien tidak langsung tersedia ketika kondisi pasien membutuhkan pertolongan.
“Kami datang karena anak sedang sakit dan kejang. Kami berharap mendapat pertolongan cepat, bukan justru menghadapi persoalan seperti ini. Kami mempertanyakan kesiapan pelayanan darurat di puskesmas tersebut,” ungkap salah seorang warga.
Warga juga mengaku mendapat ancaman akan dilaporkan ke kepolisian. Salah seorang tenaga kesehatan yang disebut bernama Risme Warna Sipayung diduga mengatakan akan melaporkan warga ke kantor polisi. Pernyataan tersebut, menurut warga, semakin memperkeruh suasana di tengah kondisi keluarga yang sedang panik karena anaknya membutuhkan pertolongan medis.
Tak Percaya Ambulans Puskesmas
Persoalan lain yang ikut disorot masyarakat adalah biaya penggunaan ambulans Puskesmas Sinasih.
Menurut salah seorang keluarga pasien, masyarakat enggan menggunakan ambulans puskesmas untuk membawa pasien ke rumah sakit karena sebelumnya pernah ada warga yang menggunakan ambulans menuju RS Bhayangkara Tebing Tinggi dan mengaku dikenakan biaya sekitar Rp600 ribu.
“Kalau memang pelayanan ambulans untuk masyarakat, kami mempertanyakan dasar dan rincian biaya tersebut. Mengapa masyarakat justru merasa lebih murah menggunakan kendaraan lain?” ujar keluarga pasien.
Balita tersebut akhirnya dibawa keluarganya menggunakan kendaraan lain ke RS Bhayangkara Tebing Tinggi untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Warga Minta Dinas Kesehatan Turun Tangan
Atas kejadian tersebut, masyarakat meminta Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun, dr. Debora Evalinch Sigit, segera turun tangan dan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pelayanan di Puskesmas Sinasih.
Warga juga meminta agar Kepala Puskesmas Sinasih, Paulina Aritonang, dievaluasi, bahkan dicopot apabila hasil pemeriksaan nantinya menemukan adanya pelanggaran prosedur atau kelalaian dalam pelayanan.
Tak hanya kepala puskesmas, masyarakat meminta seluruh tenaga perawat dan bidan yang bertugas di Puskesmas Sinasih turut diperiksa. Warga bahkan menyuarakan tuntutan agar Puskesmas Sinasih ditutup sementara apabila fasilitas dan sistem pelayanan di dalamnya dinilai tidak mampu menjamin keselamatan pasien dalam kondisi darurat.
Desakan juga diarahkan kepada Bupati Simalungun serta Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Simalungun agar ikut melakukan pemeriksaan dan evaluasi terhadap pengelolaan serta sumber daya manusia di Puskesmas Sinasih.
Kepala Puskesmas Belum Memberikan Tanggapan
Upaya konfirmasi kepada Kepala Puskesmas Sinasih, Paulina Aritonang, telah dilakukan melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp. Namun, hingga berita ini disusun, yang bersangkutan disebut belum memberikan tanggapan.
Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Kepala Puskesmas Sinasih, Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun, tenaga kesehatan yang disebut dalam pemberitaan, maupun pihak-pihak lain yang merasa dirugikan atau memiliki informasi tambahan terkait kejadian tersebut.
Masyarakat kini menunggu langkah tegas pemerintah daerah. Sebab, persoalan ini bukan sekadar soal siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan menyangkut kesiapan fasilitas kesehatan dalam memberikan pertolongan kepada pasien dalam kondisi darurat.
Jika benar terdapat keterlambatan penanganan, ketidaktersediaan obat, persoalan akses ruang obat, ataupun pungutan ambulans yang tidak sesuai ketentuan, maka hal tersebut harus diperiksa secara terbuka dan profesional.
Jangan sampai masyarakat datang ke puskesmas untuk mencari pertolongan, tetapi justru pulang membawa kekecewaan dan tanda tanya besar tentang kualitas pelayanan kesehatan di daerahnya.
Laporan: Raja
Editor: Redaksi
