![]() |
| Warga Perumahan Pondok Alam Sigara-gara Somasi Developer Terkait Air Bersih dan Fasilitas Dasar |
Patumbak, Selektifnews.com — Kesabaran warga Perumahan Pondok Alam Sigara-gara, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, dinilai telah mencapai batas. Perumahan yang dikembangkan oleh PT RAY tersebut menuai keluhan serius dari para penghuni terkait tidak terpenuhinya janji pengembang mengenai penyediaan air bersih dan layak, meskipun telah bertahun-tahun dihuni. Hingga Sabtu (7/2), pihak developer disebut belum juga merealisasikan komitmen dasar yang sebelumnya disampaikan kepada konsumen.
Sejumlah warga menilai janji pengembang hanya sebatas wacana tanpa realisasi nyata. Kondisi tersebut memicu kegeraman penghuni yang kemudian berinisiatif melakukan pertemuan dan diskusi internal. Dari hasil musyawarah warga, disepakati langkah bersama untuk menempuh jalur hukum dengan melayangkan somasi resmi kepada pengembang PT RAY atas dugaan ingkar janji dan potensi penipuan konsumen.
Dalam dokumen somasi yang diperoleh awak media, terdapat beberapa tuntutan utama warga. Di antaranya adalah jaminan tersedianya air bersih dan layak bagi seluruh penghuni, pembangunan tembok keliling perumahan guna meningkatkan keamanan dan kenyamanan, serta penyediaan fasilitas umum dan fasilitas sosial sebagaimana lazimnya kawasan perumahan. Namun berdasarkan informasi yang dihimpun, hingga saat ini warga menilai belum ada satu pun tuntutan tersebut yang dipenuhi pihak pengembang.
Awak media kemudian melakukan penelusuran lapangan dan mengonfirmasi langsung kepada sejumlah penghuni Perumahan Pondok Alam Sigara-gara. Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya dan tidak ingin dipublikasikan blok tempat tinggalnya, menyampaikan bahwa kualitas air yang dialirkan ke rumah-rumah warga dinilai sangat tidak layak. Air tersebut disebut keruh, berbau, dan diduga berasal dari saluran yang tercemar.
“Sudah sangat jenuh kami, bang. Air yang mengalir ke rumah kami seperti air parit dan comberan. Memang ada meteran air, tapi kualitasnya sangat buruk. Saya sampai mengalami gangguan kulit,” ujar warga tersebut sambil memperlihatkan kondisi kulit kakinya yang mengalami infeksi jamur. Ia mengaku harus rutin berobat ke dokter kulit dengan biaya sekitar Rp500 ribu setiap bulan akibat dampak penggunaan air tersebut.
Menurut warga itu, meskipun selama beberapa tahun terakhir tidak ada penagihan iuran air dari pihak pengembang, kerugian yang dialami justru jauh lebih besar. “Lebih rugi kami karena harus berobat terus. Kalau memang masalah air ini tidak juga jelas, kami berharap ada pendampingan hukum. Kami merasa diperlakukan tidak manusiawi,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Warga tersebut juga menunjukkan kepada awak media percakapan dalam grup WhatsApp internal penghuni perumahan. Dalam percakapan itu, terlihat sejumlah warga meluapkan kekesalan dan bahkan menyampaikan keinginan untuk melaporkan persoalan ini kepada pihak kepolisian. Meski demikian, informan mengaku masih merasa malu jika identitasnya dipublikasikan karena kondisi kesehatannya yang terdampak akibat kualitas air.
Untuk menjaga prinsip keberimbangan, awak media telah berupaya mengonfirmasi langsung kepada pihak pengembang Perumahan Pondok Alam Sigara-gara, PT RAY, terkait keluhan dan somasi warga tersebut. Namun hingga berita ini diturunkan, pihak PT RAY belum memberikan tanggapan atau klarifikasi resmi atas persoalan yang disampaikan warga.
Reporter: R.S. Manurung
Editor: Zulfandi Kusnomo










