![]() |
| Foto: Istimewa |
Tebing Tinggi — Buruknya kualitas pengerjaan sulam tempel aspal di Jalan M. Yamin, Kelurahan Tanjung Marulak Hilir, Kecamatan Rambutan, Kota Tebing Tinggi, menuai sorotan dan keluhan dari masyarakat sekitar. Warga menilai pekerjaan penutupan jalan berlubang tersebut dilakukan secara asal jadi karena material yang digunakan masih berupa pasir dan batu pecah (sirtu), sehingga menimbulkan debu tebal yang beterbangan setiap kali kendaraan melintas.
Kondisi tersebut dikeluhkan warga karena telah berlangsung hampir sepekan tanpa adanya penanganan lanjutan dari pihak terkait. Debu yang terus berterbangan tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat, tetapi juga dinilai dapat berdampak buruk terhadap kesehatan warga maupun para pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.
Salah seorang warga Jalan M. Yamin yang akrab disapa Edi mengungkapkan kekecewaannya terhadap pelaksanaan pekerjaan tersebut. Ia menilai pihak pelaksana seharusnya memperhatikan kualitas pekerjaan serta dampak lingkungan yang ditimbulkan, terlebih lokasi pengerjaan berada di kawasan padat aktivitas masyarakat. Menurutnya, pekerjaan yang diduga berada di bawah tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Sumatera Utara itu harus dilakukan dengan memperhatikan standar pengerjaan jalan.
"Setiap hari kami makan debu yang berasal dari pengerjaan aspal ini. Tidak ada penyiraman air untuk mengurangi debu yang beterbangan. Sudah hampir seminggu kami menghirup debu setiap hari. Kendaraan yang lewat membuat debunya semakin parah. Kami merasa kesehatan warga sama sekali tidak dipikirkan," ujar Edi kepada awak media.
Edi menambahkan, Jalan M. Yamin merupakan salah satu jalur yang cukup padat dilalui kendaraan dan berada di kawasan perdagangan, tepatnya di sekitar sentra pedagang makanan yang berhadapan dengan Rumah Sakit Umum Chevani. Kondisi debu yang terus beterbangan dinilai sangat mengganggu kenyamanan masyarakat, pelanggan usaha, hingga para pengendara sepeda motor yang melintas di lokasi tersebut.
"Selain mengganggu pemandangan, debu juga mengurangi jarak pandang. Pengendara motor harus lebih berhati-hati karena kondisi ini bisa memicu kecelakaan lalu lintas. Para pedagang juga dirugikan karena makanan dan lingkungan sekitar menjadi kotor akibat debu," tambahnya.
Berdasarkan pantauan awak media di lokasi, material yang digunakan untuk menutup lubang jalan tampak masih berupa pasir dan batu pecah yang belum menyatu sempurna dengan lapisan aspal. Saat kendaraan melintas, material tersebut kembali terangkat dan menyebabkan debu beterbangan ke arah permukiman warga, pertokoan, hingga badan jalan. Kondisi itu dinilai berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, iritasi mata, serta gangguan kesehatan lainnya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera melakukan evaluasi terhadap kualitas pengerjaan tersebut dan meminta pihak pelaksana memperbaiki pekerjaan agar sesuai dengan standar teknis pembangunan jalan. Warga juga meminta adanya langkah cepat berupa penyiraman rutin untuk mengendalikan debu serta percepatan penyelesaian pengaspalan, sehingga aktivitas masyarakat di Jalan M. Yamin dapat kembali berjalan dengan nyaman dan aman tanpa terganggu polusi debu berkepanjangan.
