-->

Iklan

Menu Bawah

Iklan

Halaman

Amerika Serikat Tetap Bertekad Caplok Greenland, Ancaman Trump Guncang Eropa dan NATO

Redaksi
Sabtu, 17 Januari 2026, Januari 17, 2026 WIB Last Updated 2026-01-16T18:44:21Z

 

Kapal patroli Angkatan Laut Denmark HDMS Ejnar Mikkelsen saat berlabuh di Njuk, Greenland (FOTO: NBCNews/Getty Image)

Jakarta, Selektifnews.com  -- Amerika Serikat kembali menegaskan tekadnya untuk mencaplok pulau Greenland, meskipun mendapat penolakan keras dari Denmark, penduduk lokal, serta sekutu-sekutu Eropa. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengulangi ancamannya dalam pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih, Jumat (8/1/2026). Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Trump menegaskan bahwa Washington akan bertindak “suka atau tidak suka,” demi kepentingan nasional Amerika Serikat.


Dalam pernyataannya, Trump mengaku telah “mematok bangkrong” dan bersikeras bahwa Amerika Serikat akan mengambil langkah terhadap Greenland, wilayah semi-otonom di bawah Kerajaan Denmark. Ia berdalih bahwa tindakan tersebut diperlukan untuk menjaga keamanan nasional AS. Menurut Trump, jika Amerika tidak bertindak, maka Greenland berisiko diambil alih oleh Rusia atau China yang dinilai semakin agresif di kawasan Arktik.


Ancaman tersebut bukan kali pertama disampaikan Trump. Ia kembali menekankan bahwa Amerika Serikat “akan melakukan sesuatu di Greenland, suka atau tidak suka.” Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran internasional akan kemungkinan langkah sepihak Washington terhadap wilayah yang secara strategis penting karena posisi geografis dan sumber daya alamnya yang melimpah.


China sendiri memang telah meningkatkan kehadirannya di kawasan Arktik dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2019, Beijing mendeklarasikan diri sebagai “negara yang dekat dengan Arktik” dan mengumumkan rencana pembangunan “jalur sutra kutub.” Inisiatif ini dimaksudkan untuk meniru jaringan infrastruktur global yang telah dibangun China di daratan melalui proyek Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative).


Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt turut menyinggung faktor tersebut. Ia menyatakan bahwa kepemilikan Amerika Serikat atas Greenland diperlukan “untuk mencegah agresi Rusia dan China di wilayah Arktik,” sembari menambahkan bahwa akan ada “banyak manfaat lainnya” bagi kepentingan AS. Trump sendiri mengaku sebagai penggemar berat Denmark dan mengatakan lebih memilih menyelesaikan masalah melalui kesepakatan damai. Namun ia menegaskan, “Saya ingin mencapai kesepakatan dengan cara yang mudah, tetapi jika tidak, kita akan melakukannya dengan cara yang sulit.”


Bagi Denmark dan warga Greenland, pernyataan tersebut dinilai sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan dan prinsip kerja sama internasional. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk mencaplok salah satu dari tiga negara dalam Kerajaan Denmark. Ia bahkan memperingatkan bahwa tindakan semacam itu dapat menandai berakhirnya aliansi militer NATO. “Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain, maka semuanya akan berhenti, termasuk NATO dan keamanan yang telah diberikan aliansi tersebut sejak Perang Dunia Kedua,” ujar Frederiksen.


Kecemasan juga dirasakan langsung oleh masyarakat Greenland. Aaja Chemnitz, salah satu dari dua anggota parlemen Greenland di parlemen Denmark, menyebut ancaman tersebut “benar-benar mengerikan.” “Anda tidak bisa begitu saja membeli negara lain, rakyat, jiwa Greenland,” katanya. Ia menambahkan bahwa isu ini menjadi pembicaraan utama di Greenland dan memicu rasa khawatir serta prihatin di kalangan masyarakat.


Reaksi keras turut datang dari para pemimpin Eropa lainnya. Presiden Prancis Emmanuel Macron menuduh Amerika Serikat “melanggar aturan internasional yang dulunya mereka junjung tinggi.” Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier memperingatkan dunia berisiko jatuh ke dalam “sarang perampok, di mana orang-orang paling tidak bermoral mengambil apa pun yang mereka inginkan.” Meski Inggris, Prancis, dan Jerman menegaskan komitmen untuk membela integritas teritorial, banyak pengamat menilai peluang menghentikan langkah AS sangat kecil. “Pada dasarnya kita terjebak dalam perangkap yang sulit dipecahkan,” kata anggota parlemen Finlandia Mika Aaltola, menggambarkan dilema besar yang kini dihadapi Eropa.


Reporter: Tim Selektifnews.com 

Editor: Zulfandi Kusnomo 

Komentar

Tampilkan

Terkini

Entertainment

+

Opini

+