-->

Iklan

Menu Bawah

Iklan

Halaman

Krisis Iran Memburuk: Ratusan Tewas, Ribuan Ditangkap dalam Gelombang Demonstrasi

Redaksi
Rabu, 14 Januari 2026, Januari 14, 2026 WIB Last Updated 2026-01-14T06:52:54Z

 

Massa demo Iran pro-pemerintah berunjuk rasa membawa bendera negara di Kota Arak, 9 Januari 2026. Demo Iran terbaru pecah sejak 28 Desember 2025, pedemo memprotes tingginya inflasi dan melambungnya biaya hidup.(IRAN PRESS via AFP)

Teheran, Selektifnews.com  -- Gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang meluas di Iran sejak akhir Desember 2025 telah berubah menjadi salah satu krisis paling berdarah dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah korban tewas dalam unjuk rasa tersebut kini diperkirakan mendekati 1.000 orang, bahkan berpotensi melampaui angka tersebut jika seluruh laporan kematian terkonfirmasi. Skala kekerasan ini disebut lebih parah dibandingkan protes besar yang terjadi setelah kematian Mahsa Amini pada 2022.


Hingga Minggu (11/1/2026), sedikitnya 544 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bentrokan selama aksi demonstrasi berlangsung. Angka tersebut mencerminkan lonjakan drastis korban jiwa dalam waktu singkat, seiring meningkatnya eskalasi di berbagai kota besar dan daerah di Iran. Demonstrasi yang awalnya bermula dari persoalan ekonomi kini berkembang menjadi gerakan penentangan luas terhadap pemerintahan.


Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat mencatat bahwa jumlah korban tewas melonjak tajam dari 116 orang yang tercatat pada Sabtu (10/1/2026). Lonjakan ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan komunitas internasional terkait penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat keamanan Iran dalam menghadapi massa demonstran.


Organisasi tersebut juga mengungkapkan adanya 579 laporan kematian tambahan yang masih dalam proses verifikasi. Apabila seluruh laporan itu terbukti akurat, maka total korban jiwa diperkirakan mencapai 1.123 orang. Jumlah ini jauh melampaui korban tewas dalam demonstrasi menyusul kematian Mahsa Amini pada 2022, yang menurut Al Jazeera menewaskan sedikitnya 500 demonstran dan menyebabkan lebih dari 20.000 orang ditangkap.


Mahsa Amini sendiri merupakan perempuan Kurdi berusia 22 tahun yang ditangkap oleh polisi moral Iran karena diduga melanggar aturan berpakaian bagi perempuan. Ia dilaporkan meninggal dunia saat berada dalam tahanan akibat tindakan keras aparat, peristiwa yang kala itu memicu gelombang kemarahan publik dan protes nasional yang berkepanjangan.


Selain korban jiwa, situasi terkini di Iran juga diwarnai oleh penangkapan massal. Lebih dari 10.681 orang dilaporkan telah ditangkap dan dipindahkan ke berbagai penjara di sejumlah provinsi. Sky News melaporkan bahwa sebagian besar korban meninggal dunia akibat tembakan peluru tajam maupun peluru karet dari jarak dekat, memperkuat tudingan adanya represi brutal terhadap demonstran.


Di Ibu Kota Teheran, televisi pemerintah menayangkan gambar puluhan kantong jenazah yang disimpan di kantor forensik. Tayangan lain menunjukkan warga berkerumun di luar Pusat Medis Forensik Kahrizak untuk mengidentifikasi anggota keluarga mereka yang tewas. Pemadaman komunikasi di 31 provinsi semakin memperburuk situasi, membuat informasi dari lapangan sulit diverifikasi secara menyeluruh.


Menanggapi eskalasi krisis, Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya angkat bicara. Dalam wawancara dengan media nasional yang berafiliasi dengan pemerintah, ia menuding bahwa aksi kekerasan dipicu oleh kelompok yang memiliki keterkaitan dengan kekuatan asing. Meski demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa pemerintah tetap membuka ruang dialog dan berkomitmen menyelesaikan persoalan ekonomi yang menjadi pemicu utama keresahan rakyat Iran.


Reporter: Tim Selektifnews.com 

Editor: Zulfandi Kusnomo 

Komentar

Tampilkan

Terkini

Entertainment

+

Opini

+