![]() |
| Menu MBG di Kelurahan Bantan berupa satu butir telur rebus, empat butir anggur, empat butir kurma, serta satu cup plastik bubur kacang hijau yang tampak encer |
Pematangsiantar, Selektifnews.com -- Ketua Komunitas Barisan Rakyat Hancurkan Tindakan Ilegal (BARAHATI), Zulfikar Efendi, menyoroti keras pelaksanaan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Bantan, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar. Harapan besar warga untuk melihat anak-anak mereka tumbuh sehat melalui program tersebut disebutnya seketika rontok setelah beredar informasi mengenai kualitas menu yang dinilai jauh dari standar kelayakan gizi nasional. Ia menegaskan bahwa program yang seharusnya menjadi solusi pencegahan stunting justru memunculkan kekecewaan mendalam di tengah masyarakat.
Informasi yang dihimpun media dari seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkap dugaan kondisi memprihatinkan terkait paket makanan yang dibagikan kepada balita dan ibu menyusui. Alih-alih mendapatkan asupan protein tinggi dan menu seimbang, penerima manfaat disebut hanya memperoleh satu butir telur rebus, empat butir anggur, empat butir kurma, serta satu cup plastik bubur kacang hijau yang tampak encer. Menu tersebut diklaim sebagai bagian dari intervensi gizi dalam masa pertumbuhan emas anak dan pemulihan ibu menyusui.
Menurut Zulfikar Efendi, potret menu yang diterima redaksi tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai keseriusan pelaksanaan program di tingkat kelurahan. Ia menilai, jika benar menu tersebut menjadi standar distribusi, maka hal itu sangat tidak mencerminkan tujuan utama MBG yang dirancang sebagai program strategis nasional untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat rentan. “Balita dan ibu menyusui membutuhkan asupan protein hewani, karbohidrat, lemak sehat, vitamin, dan mineral yang cukup, bukan sekadar camilan ringan,” tegasnya.
Ironisnya, Kelurahan Bantan disebut sebagai salah satu titik distribusi utama yang seharusnya menjadi percontohan di wilayah Siantar Barat. Namun di lapangan, pelaksanaan program diduga terkesan sebatas formalitas administratif demi laporan ke atas. Zulfikar menyayangkan jika kegiatan distribusi hanya menjadi ajang dokumentasi tanpa memastikan kualitas dan kuantitas makanan yang benar-benar layak konsumsi serta sesuai standar gizi.
Program MBG sendiri memiliki tujuan spesifik sebagai intervensi gizi makro dan mikro untuk menekan angka stunting serta meningkatkan kualitas generasi masa depan. Dalam konteks ibu menyusui, kebutuhan kalori dan protein yang cukup sangat menentukan kualitas ASI yang dihasilkan. Jika asupan yang diberikan tidak memenuhi standar, maka bukan hanya ibu yang dirugikan, tetapi juga bayi yang sedang dalam masa pertumbuhan krusial.
Publik di Pematangsiantar kini mulai mempertanyakan adanya kemungkinan ketimpangan dalam proses pendistribusian. Mengapa standar nasional yang dijanjikan terlihat berbeda dengan realita di lapangan? Ketidaksesuaian antara konsep program di pusat dengan implementasi di tingkat bawah dinilai berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang sejatinya berpihak pada rakyat kecil.
Zulfikar Efendi menegaskan bahwa aparat di tingkat kelurahan tidak boleh berlindung di balik alasan teknis atau penyesuaian lapangan yang tidak jelas. Standar gizi, menurutnya, adalah harga mati yang tidak boleh dikompromikan. Setiap paket makanan yang tidak layak berarti mengurangi hak anak atas tumbuh kembang yang optimal. Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang menjadikan program kemanusiaan ini sebagai sekadar rutinitas tanpa empati.
BARAHATI secara terbuka mendesak Pemerintah Kota Pematangsiantar untuk melakukan audit menyeluruh serta inspeksi mendadak terhadap pelaksanaan MBG di Kelurahan Bantan. Transparansi anggaran, mekanisme pengadaan, serta pengawasan distribusi harus dibuka ke publik guna memastikan tidak ada penyimpangan. “Masyarakat Bantan tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya menuntut hak atas gizi yang telah dijanjikan negara secara utuh dan berkualitas,” pungkas Zulfikar Efendi.
Sementara itu, Lurah Bantan hingga berita ini diterbitkan belum berhasil dikonfirmasi oleh awak media.
Laporan: Tim Selektifnews.com
Editor: Zulfandi Kusnomo







