-->

Iklan

Menu Bawah

Iklan

Halaman

Sinergi KSSK Jaga Stabilitas Ekonomi Q4-2025 di Tengah Gejolak Global

Redaksi
Selasa, 10 Februari 2026, Februari 10, 2026 WIB Last Updated 2026-02-09T21:56:36Z

 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

Jakarta, Selektifnews.com – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) secara resmi mengumumkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia sepanjang triwulan IV tahun 2025 berada dalam kondisi yang tetap terjaga dan stabil. Capaian positif ini ditegaskan sebagai hasil nyata dari koordinasi yang solid serta sinergi kebijakan yang berkelanjutan antarotoritas keuangan. Keberhasilan dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional ini menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian.


Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, dan Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, menyatakan komitmen kolektif mereka untuk terus memperkuat pengawasan. KSSK secara intensif melakukan asesmen forward looking terhadap kondisi perekonomian domestik dan sektor keuangan. Langkah mitigasi terkoordinasi terus disiapkan guna mengantisipasi berbagai risiko yang muncul dari pasar internasional agar tidak berdampak sistemik pada stabilitas nasional.


Memasuki awal tahun 2026, tantangan baru mulai muncul seiring dengan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global pada bulan Januari. Gejolak ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan perdagangan antarnegara besar serta eskalasi geopolitik di beberapa kawasan strategis. Meski demikian, KSSK meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih sangat tangguh. Pertumbuhan ekonomi nasional diprakirakan mencapai 5,2% pada tahun 2025 dan optimis akan meningkat menjadi 5,4% pada tahun 2026, didukung oleh penguatan investasi melalui peran BPI Danantara dan Satgas P2SP.


Dari sisi fiskal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjalankan peran strategis sebagai peredam guncangan (shock absorber). Hingga akhir 2025, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun (95,3% dari target), sementara pendapatan negara terkumpul sebesar Rp2.756,3 triliun. Dengan defisit yang terkendali di angka 2,92% PDB, pemerintah berhasil menjaga keseimbangan antara stimulus pertumbuhan dan keberlanjutan fiskal. Alokasi belanja sebesar Rp805,4 triliun pun telah disalurkan secara efektif untuk manfaat langsung masyarakat melalui program perlindungan sosial dan pelayanan publik.


Di sektor moneter, Bank Indonesia melaporkan pertumbuhan uang primer (M0) yang cukup tinggi pada Desember 2025, yakni sebesar 11,4% yoy. Hal ini didukung oleh kebijakan penempatan kas negara pada bank mitra yang mencapai ratusan triliun rupiah, yang secara efektif menurunkan biaya dana perbankan dan menjaga likuiditas pasar. Langkah ini terbukti ampuh dalam menjaga daya saing perbankan nasional sekaligus memastikan arus modal tetap stabil meski kondisi pasar global sedang fluktuatif.


Pemerintah juga memastikan bahwa program stimulus ekonomi tahun 2025 akan berlanjut pada tahun 2026 demi menjaga daya beli. Terdapat empat program utama yang diperpanjang, antara lain jangka waktu pemanfaatan PPh Final 0,5% bagi UMKM hingga tahun 2029, serta insentif PPh Pasal 21 DTP untuk pekerja di sektor padat karya dan pariwisata. Selain itu, pemberian diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) bagi penerima bukan penerima upah tetap dijalankan sebagai jaring pengaman sosial yang inklusif.


Fokus pembangunan ke depan juga diarahkan pada penguatan sarana prasarana publik dan produktivitas nasional. Melalui dana APBN, pemerintah terus mendorong revitalisasi sekolah, pembangunan bendungan, irigasi, serta preservasi jalan dan jembatan. Sektor ketahanan pangan juga diperkuat melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan, serta penguatan cadangan pangan melalui Bulog. Langkah-langkah sektoral ini diambil untuk memastikan bahwa stabilitas sistem keuangan memberikan dampak nyata pada sektor riil.


Sebagai penutup, KSSK menegaskan akan terus memperkuat koordinasi untuk mendukung program Asta Cita guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan sinergi kebijakan yang mencakup stabilitas harga, perlindungan daya beli, dan penguatan investasi, Indonesia optimis dapat menavigasi tantangan tahun 2026 dengan lebih baik. KSSK mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tetap optimis namun waspada dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi yang telah terbangun kuat sejauh ini.


Reporter: Tim Selektifnews.com 

Editor: Zulfandi Kusnomo 

Komentar

Tampilkan

Terkini

Entertainment

+

Opini

+